SHOPPING CART

close
Ayo Gabung Jadi Universalscout, Bumikan Satya Darma Pramuka Tanpa Batasan Ruang dan Waktu

Wanita yang Seharusnya Tidak Pernah Aku Datangi

“Tin…tin awas Tos..!! untung nggak papa. Hampir saja dia menyerempetku” Aku yang agak kesal melihat kecerobohan Totok yang bermain HP saat mengendarai vespa antik peninggalan kakeknya dua tahun lalu yang meninggal karena jantung koroner. “Maaf, Tos. Aku tadi Cuma membalas SMS dari Pakdhe untuk jemput dia di Terminal dan aku buru-buru deh… sekali lagi sorry ya..” Totok menyesali kecerobohannya. “Lagian, ngapain sih nggak minggir dulu. Kalo udah begini kan bahaya tau. Untung cuma lecet di tangan dikit.” Kesalku.

Totok kembali menaiki vespanya untuk pergi menuju terminal. Di depan sebuah toko bangunan, tepatnya 100 meter ke utara saat Totok hampir menabrak aku tadi saat juga aku kembali melangkah terlihat seorang mengenakan kaos yang ditutupi kemeja dengan celana jean yang robek di bagian lutut. Yang membuatku penasaran adalah air mata yang menetes dipipinya. Ternyata ia seorang cewek tomboy dengan gaya topinya yang menghadap kebelakang. Aku mencoba mendekatinya.
“Mbak, ada yang bisa saya bantu? Kenapa Mbak dari tadi sedih?” tanyaku saat berdiri di belakangnya.
“Siapa kamu?” dia mulai menoleh kepadaku dan mengusap air mata di pipi.
“Em.. Perkenalakan nama saya Santos” sambil meberikan tangan kananku dan berharap di juga mau berkenalan.
“Gua Dila.” jawabnya agak sinis.
“Maaf sebelumnya, kenapa Mbak sendirian disini. Kalau ada masalah atau semacam bantuan Insya Allah aku bisa bantu Mbak” aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
“Nggak ada urusannya ya sama elo. Lagian kamu ngapain sih nanya-nanya gitu.” Lagaknya yang menandakan dia agak tomboy.
“Yaudah deh mbak, kalau gitu saya pergi dulu kalau memang nggak pengen diganggu.” Aku mulai mengundurkan diri.

Sebenarnya agak nggak tega kalau melihat seorang cewek menangis. Tapi, ya gimana..orang ceweknya sinis gitu nggak ada lembut-lembutnya bahkan. Aku teringat kalau aku harus meminjam buku ke salah satu temanku agar tugasku cepat selesai.Pergi saja aku dari tempat tadi.
“Tunggu..tunggu” suara orang memanggil.
“Kamu memanggilku?” aku menebak bahwa cewek tomboy tadi yang memanggilku.
“Bantuan kamu tadi masih berlaku nggak? Aku butuh banget nih..” dia bertanya kepadaku.
“Masih kok. Emang ada apa?” aku penasaran
“Kamu punya temen cewek nggak, aku butuh tempat istirahat soalnya”. Keluhnya.
“Ada kok, kebetulan aku mau ke kost-annya. Ada perlu.”
“Jauh nggak?”
“Lumayan sih, perempatan di depan kita itu, belok kanan terus sampai ada kost-kost-an depan kolam pemancingan” aku mencoba menjelaskan.
“BTW, kamu tinggal dimana ?” tanyanya.
“Aku ngontrak dengan kedua sahabatku dari kecil yang SMP-nya sama denganku. Someday aku kenalin deh” Jawabku

Perjalanan ke kost-an Shinta salah satu temanku itu kira-kira ditempuh sekitar 20 menit. Diperjalanan menuju kost-an Sinta, aku bertanya kepada Dila mengenai kejadian tadi mengapa di menangis sendirian. Penyebabnya ternyata ia kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan orang tua angkatnya yang kejam padanya. Dua bulan yang lalu orang tua kandungnya meninggal karena kecelakaan mobil. Dila sangat terpukul dengan kejadian itu, sampai-sampai seminggu ia sakit karna mogok makan. Dila dirayu agar ia mau tinggal dengan sahabat ayahnya yang ternyata hanya ingin menguras harta ayah Dila. Satu dua hari orang tua angkatnya bersikap baik pada Dila. Namun, di hari-hari berikutnya orangtua barunya itu mulai menunjukkan kekejamannya kepada gadis tomboi itu.

Pernah suatu hari, ia melawan saat di suruh ibu tirinya untuk membersihkan dan membereskan seluruh seisi rumah sehingga ia dikurung dalam kamar mandi selama berjam-jam. Tak tahan dengan sikap orangtua angkatnya yang jahat itu, Dila mempunyai niat meninggalkan rumah peninggalan almarhum ayahnya itu tanpa memperdulikan semua harta kedua orangtua kandungnya. Begitulah curcolan Dila saat di perjalanan menuju Kost-an Sinta.
“Permisi..” panggilan halusku untuk memanggil seseorang keluar dari ruangan.
“Santos..? Ada perlu apa?”. tanyanya sambil membuka pintu.
“Aku mau pinjem buku paket Biologi Semester 1”.
“Sebentar, aku ambilin dulu. Kayaknya sih bukunya ada di tumpukkan bawah sendiri deh.. Ayo masuk dulu agak lama soalnya.” Pintanya.
“Nihh.. Lho..itu siapa Tos nunggu di Teras? Temenmu ya? Ayo juga diajak masuk!
“Aku mau minta tolong Sin, tadi pas aku perjalanan ke kost-an kamu aku melihat dia sedang menangis sendirian. Dia kabur dari rumah karena disiksa oleh orangtua angkatnya dan sekarang dia bingung untuk mencari tempat tinggal. Apa kamu bersedia kalau dia nge-kost atau sekamar denganmu?”. pintaku dengan lirih.
“Mbak sini deh, mbak butuh tempat tinggal ya? Kalo gitu mbak tinggal saja ya dirumah saya, kebetulan saya sendiri. Gratiss deh!! “ tawaran Sinta.
“Apa nggak ngrepotin ya mbak.. ternyata mbak ramah ya orangnya. Masak gratis sih Mbak, jaman sekarang masih ada gratisan ya?” kulihat Dila tersenyum seolah melupakan semua masalahnya.
“Dari tadi manggilnya kok mbak-mbak terus sih. Padahal kita sepantaran kan..masih 14 Tahunan loh. Perkenalkan, aku Sinta.” Unjuk Sinta
“Dila Mbak”. Sahut Dila
“Kok Mbak lagi sih “ jawab sinta agak keberatan.
“Eh, Sin..ta” jawab Dila antara lupa dan sungkan.
“Kalo gitu gua balik dulu ya!” sahutku.

Sinta mengijinkan Dila sekarang tinggal bersamanya sampai batas waktu yang belum ditentukan dengan gratis pula. Entah itu hanya candaan untuk memecah suasana hening di waktu itu atau justru Sinta berbicara serius. Nampaknya Sinta serius dengan perkataanya. Sinta adalah anak orang kaya yang mempunyai keinginan untuk belajar hidup mandiri.
“Lemot banget sih pakai sepatunya..” aku meminta Ipang untuk bergegas.
“Iya nih, bisa telat kita nanti.” Sahut temanku yang lain bernama Arya.
“Iya..ini udah selesai kok.” Bantah Ipang.

Seperti biasa kami berangkat sekolah dengan angkot yang langsung menuju arah ke sekolahku. Untuk hari ini kita terpaksa jalan kaki karena ulah Ipang yang kelamaan pakai sepatu sehingga kami ketinggalan angkot kami satu-satunya. Untung jarak ke sekolah nggak terlalu jauh. Dari kejauhan pak satpam mulai menutup pintu gerbang sekolah. Hampir saja kita terlambat. Kami berlari menuju kelas karena bersamaan dengan bel berbunyi.
“Lo sih.. pakai sepatu kelamaan kita jadi telat kan. Untung pak satpam gak marah.”
“Sorry Ya, sepatu gue kan kekecilan jadi agak susah masukinnya” Si Ipang beralasan.
“Dila? Kamu sekolah disini?” Aku terkaget dengan keberadaan Dila di sekolahku saat jam istirahat.
“Santai aja Tos, kemarin aku langsung telepon papa gue dan minta tolong supaya papa mau nyekolahin Dila sama seperti aku. Aku sangat klop deh kayaknya sama ni anak. Kasian juga kan kalau dia putus sekolah?” Sahut Sinta.
“Makasih ya Sin”. Ucap Dila.
“Nggak papa Dil, dari kemarin makasih mulu.. bosen tau!” Ketus Sinta.
“Oya, perkenalkan ini temanku yang kemarin namanya Ipang dan Arya” Selaku dengan maksud mempekenalkan Si Ipang dan Arya kepada Dila.
“Hai, Dila” sambil bersalaman

Kami berlima yaitu aku, Dila, Sinta, Ipang, dan Arya mulai bersahabat dekat mulai hari itu. Hari-hari kita lewati bersama dengan canda dan tawa. Namun masalah hati tak bisa dihindari. Sebenarnya kami berkomitmen untuk menjaga erat persahabatan ini. Cinta datang begitu saja tak mengenal waktu dan tempat.

Entah apa yang membuatku jatuh cinta pada gadis tomboy bernama Dila. Sejak pertama bertemu akupun merasakan hal yang berbeda dengannya. Berkat pengertian dari sahabat-sahabatku yang lain bahwa mereka tidak keberatan kalau aku mempunyai perasaan pada Dila. Bahkan mereka masih mau berteman seandainya nanti aku dan Dila sudah berstatus. Namun apa Dila juga mempunyai perasaan yang sama denganku? Aku tidak boleh menyerah. Cinta harus diperjuangkan!!
“Dil ada surat nih..” sembari memberikan surat kepada sahabatya Dila
“Dari siapa Sin?” Ia menghentikan dulu saat ia masak mie rebus.
“Dari siapa yah.. jarang-jarang ada yang kirim surat ke gue”. Batin Dila.

To : Dilla
Hi Dil. Mungkin kamu kaget mengapa aku tiba-tiba mengirim surat untukmu. Sebenarnya aku ingin langsung menemuimu tapi tak enak sama teman-teman. Maksud aku menulis surat ini adalah… mengenai hati. Jujur baru kali ini aku merasakan yang namanya Cinta. Kamu adalah satu-satunya orang yang menurutku berbeda dari wanita lainnya. Baru kali ini aku menemui wanita yang dapat membuatku terus berpikir sepanjang waktu. Aku mau mengatakan kalau aku punya perasaan sama kamu. Rasa ini bukan perasaan yang biasa. Namun, aku punya perasaan yang lebih denganmu. Will you be my baby on my heart? Ini mungkin sangat mengejutkan begimu, namun aku tak mau terlalu lama memendam perasaan yang tulus ini. Di umur-umuran kita yang masih labil ini mungkin kamu mengira kalau cintaku ini hanya cinta monyet. Mungkin tidak. Cause I really like you. Each time always remember you any time. You’re the first in my hearth. Nothing Other. If you accept my love, you can meet me tomorrow in the garden’s of School. Is the time 10.00 a.m.
From: Santos Dewana

“SMA yang bagus mana ya daerah sini? Bentar lagi kan UN.” Sinta mengawali percakapan kami berempat tanpa Dila.
“SMA 2 bagus tuh..” Usul Arya.
“ Bagus sih iya.. tapi masuknya itu lo agak susah, taun ini kan ada test untuk sekolah unggul di kota!.”
“Kenapa Dila nggak kesini ya? Dari tadi kok nggak keliatan. Padahal Sinta kan juga sama kita. Apa karna di menolak perasaanku terus di akan menjauhiku. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa dia. Tiap malam mikir dia, mau makan ingat dia apapun ingat dia. Apaan ah, nggak mungkin Dila seperti itu. Iya atau tidak dia menerima mengenai perasaanku pada dia mungkin dia akan menemuiku.” Lamunanku.
“Tos..Santos!!!” Ipang membangunkan aku saat aku melamun tentang Dila.
“Iya..SMA 2 juga bagus. Hmmm..kita kesana aja bagus! Tes juga kan?” Nadaku bicaraku yang agak aneh setelah dikagetkan oleh Ipang yang tiba-tiba memanggilku.
“Apaan sih Tos..main bagus-bagus aja. Gini nih akibatnya kalo diajak ngobrol nglamun sendiri. Nglamunin apa sih..” Sinta bertanya-tanya.
“Nggak papa kok Sin.” Aku mencoba beralasan.
“Wajahmu itu nggak bisa bohong lho Tos kalau kamu itu sedang mikirin sesuatu kan? Ayo jangan bohong? Kita kan sudah berteman cukup lama yah..cukup lama kan, bahkan sebelum bertemu dengan Dila”. Sinta meyakinkanku.
“Barusan mendengar Sinta menyebutkan nama Dila hati dan pikiran menjadi tidak karuan. Lagi lagi ingat dia. Mengapa dengan perasaanku ini Tuhan?” batinku lagi dalam hati.
“BTW, Dila dari tadi kemana sih ngggak muncul-muncul deh.. kemana sih Sin? Kamu kan satu kamar dengan dia.” Ipang mulai bertanya lagi tentang pertanyaanku yang ingin kutanyakan pada mereka semua namun apadaya mulut ini terasa berat untuk mengatakan.
“Oya Guys! Aku lupa ngasih tau ke kalian kalo Dila hari ini nggak masuk karna sakit.” Sinta menjelaskan keadaan Dila.
“Apa Dila sakit? Kok tiba-tiba gini dia sakit, nggak biasanya dia sakit tiba-tiba seperti ini. Ada apa ya? Apa karena di nggak mau menemui aku lagi? Atau dia sakit karena dia sudah membaca suratku yang kemarin?” batinku mulai bertanya-tanya ada apa dengan Dila yang sebenarnya.
“Kasihan Dila, emang sakit apaan Si Dila? Tanya Arya pada Sinta.
“Nggak tau deh ya.. soalnya tadi pas aku mau berangkat sekolah dia masih tidur, dan dia memberitahuku kalo dia hari ini nggak masuk karena sakit. Mau tanya sakit apa takut ganggu, soalnya dia terlihat sedang menyelimuti tubuhnya”. Sinta menjelaskan amanat Dila.
“Gitu ya.. gimana kalau kita pulang sekolah mampir kerumah Sinta? Besuk si Dila?” Ajakan si Ipang kepada kami semua.
“Okay”. Tanda Sinta menyetujui usul dari Ipang.
“Tapi apa kita nggak kecepetan? Biarkan dulu lah si Dila beristirahat.” Selaku yang sebenarnya agak takut kalau Misal bertemu dengan Sinta apalagi kalau Sinta sudah membaca surat dari aku.
“Justru ini, kita perlihatkan kepedulian kita sebagai seorang sahabat.” Alasan Ipang yang membuatku tidak bisa menolak ajakannya.

Seketika bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat udah usai. Kami pun dengan segera menuju kelas masing-masing. Selang beberapa menit, bel berbunyi lagi dan dengan sontak semua anak gembira karena ada pengumuman kalau Hari ini pulang pagi. Kegiatan rapat dinas di sekolah kami membuat para siswa dipulangkan lebih awal. Aku dan sahabatku yang lain tidak mau kalah senangnya, dengan cepat aku membereskan buku di tas dan langsung pulang dengan hati-hati. Pulang sekolah kami akan kerumah Sinta untuk melihat keadaanya setelah kami mengganti seragam sekolah dengan pakaian yang rapi, sebab kali ini aku akan melihat perbedaan Dila setelah membaca surat yang kukirim kemarin.
“Tok, tok..!”. Terdengar suara ketokanku saat kami mengetuk pintu.
“Oh iya Tos..Gawat nih !!” Jawab Sinta dengan sangat tergesa-gesa.
“Ada apa Sin, pelan-pelan deh.. jangan terburu-buru. Sekarang tarik nafas..keluarkan pelan-pelan”. Aku mengingatkan sekaligus memberi masukkan kepada Sinta, dan Sinta langsung melakukannya.
“Huh..Oke sekarang! Itu..Si Dila kabur dari kamar lewat jendela. Dan dia hanya meninggalkan ini di meja. Aku juga nggak tau alasannya kenapa Dila bisa seperti ini”. Aku, Ipang, dan Arya tersontak kaget melihat kenyataan yang diberikan oleh Sinta. Dan aku langsung merebut surat dari Dila dari tangan Sinta dan langsung membacanya.

To: All my close friend.
Sebelumnya aku minta maaf dulu kepada teman-teman semua terutama Santos karena kepergianku yang mendadak ini. Soal surat yang kamu kirim ke aku kemarin, aku sangat kaget dan mungkin tidak percaya..this supprised for myself. Aku terpakasa menolak perasaan kamu karena aku sudah dijodohkan dengan orangtua kandungku. Soal cerita yang kuceritakan kepadamu kemarin itu semua bohong. Ayahku dan Ibuku masih ada dan mereka sedang berada di Singapura karena ada tugas disana dan soal teman ayahku kemarin yang kubilang di kejam padaku, itu tidak benar karena justru mereka yang membantu kemajuan perusahaan ayahku. Aku juga terpaksa bohong karena sebenarnya aku kabur dari rumah bukan karena di siksa oleh teman ayahku, namun karena aku bosan sendirian dirumah yang besar aku kabur. Dan karena aku nggak tau arah sama sekali aku jadi tersesat dan bertemu denganmu. Aku mengucapkan terima kasih padamu Tos, karena jika nggak ada kamu di seberang pada waktu itu mungkin nasibku akan beda. Aku minta maaf juga kepada teman-teman yang lain karena sudah memberikan kasih sayang dan bantuan yang sangat banyak padaku. Kalian mungkin menganggap aku pengkhianat karena tidak tau balas budi. Sekali lagi aku minta maaf ya.. Aku akan berangkat ke bandara besok, saat jam sekolah kalian jam 10.14 WIB. Semoga kita dapat berjumpa lagi suatu saat.
From: Dila

“Ada apa Tos..Dila nulis apa? Kok kamu kayak nggak kuat gitu? Sini coba kulihat”. Tanya sinta yang tiba tiba melihat keadaanku seperti nggak kuat dan beralih menyaut surat yang masih ku pegang dengan rasa yang ingin menahan tangisan.
“Apa? Jadi kita dibohongin Dila? Teman macam apaan dia! Sudah ditolong malah pergi, dengan surat lagi! Ayo kita nyusul ke Bandara buat minta penjelasan. Mumpung waktunya belum terlambat” Sinta merasa kecewa terhadap apa yang dilakukan oleh Dila.
“Ayo-ayo cepat”. Niat Ipang dan Arya untuk menyusul si Dila.
“Tunggu!! Jangan!! Biarkan saja dia pergi, Dasar pengkhianat!! Dan aku juga minta maaf pada kalian bertiga karena sebenarnya mungkin aku yang sudah membuat di pergi meninggalkan kita. Aku minta maaf ya pada kalian.” Pintaku pada mereka dengan nada yang lumayan tinggi agar tidak beranjak pergi dan jelasku pada mereka.
Setelah kami bertiga merasa dikhianat oleh Dila mereka juga menyetujui permintaanku. Dan akhirnya kami pulang dengan rasa kekecawaan yang amat dalam.

Tamat..

Tags:

0 thoughts on “Wanita yang Seharusnya Tidak Pernah Aku Datangi

Leave a Reply

Your email address will not be published.