SHOPPING CART

close
Ayo Gabung Jadi Universalscout, Bumikan Satya Darma Pramuka Tanpa Batasan Ruang dan Waktu

Salah Kaprah Filosofi Kopi

Beberapa waktu belakangan ini, kita sering sekali melihat, membaca dan mendengar filosofi kopi. Yang mana kebanyakan orang menyebut bahwa kopi lengkap dengan air dan gulanya plus cangkirnya dan mungkin dengan ‘lepek’nya alias alas cangkir cukup mengena untuk menggambarkan bagaimana kita bersikap dalam hidup. Filosofi kopi dijadikan pembelajaran kebijaksanaan dalam hidup. Lalu apakah benar faktanya seperti itu?

Salah kaprah.

Kita tak bisa menyebut kopi itu pahit. Faktanya ada orang yang suka minum kopi tanpa gula. Dan dia tidak merasa itu pahit. Malah mereka bilang itu nikmat. Nikmatnya kopi adalah tanpa gula, begitu mereka bilang. Sebab apabila minum kopi dengan gula itu namanya bukan minum kopi, tapi minum kopi manis. Sedang yang disebut minum kopi, ya cukup air sama kopi. Itu namanya minum kopi.

Lalu apa hubungannya dengan kehidupan?

Saat hidup itu pahit, belum tentu bahwa yang manis-manis bisa membuatnya menjadi enak. Justru bagi sebagian orang, kepahitan demi kepahitan itu, malah bisa menimbulkan kemanisan, walau tanpa perlu hal-hal yang membuat manis. Sama dengan kopi tadi. Meski menurut kebanyakan orang kopi adalah pahit, tapibagi mereka yang sudah menikmati kopi semata tanpa gula sejak lama, justru gula akan membuat rasa kopi itu tidak enak.

Paham kan maksudnya?

Lalu bagimana yang suka gula saja tanpa kopi? Berarti mereka tak bsa menghadapi hidup yang pahit?

Hidup yang menyenangkan itu rasanya seperti gula, yaitu manis. Apakah orang akan merasa susah kalau hidupnya tak mengenal rasa pahit?Atau manusia akan menjadi bego kalau tak mau menerima kenyataan pahit?

Dalam hidup ini, Sang Pencipta Lombok telah menyampaikan yang intinya bahwa, pada orang-orang yang selalu bertaqwa dan bersyukur maka dihatinya akan selalu ada rasa bahagia dan tak kekurangan apapun juga.

Nah, saat orang sudah pada tataran ini, maka hidupnya akan selalu berasa gula, akan selalu berasa manis. Bahkan pahit-sepahit-pahitnya hidup akan terasa manis. Lalu ketika tak ada lagi rasa pahit apakah berarti mereka salah dalam menjalani kebijaksanaan hidup? Bukankah disini filosofi kopi sudah tak lagi sesuai?

Dalam filosofi kopi kita seakan diarahkan untuk mengimbangkan antara pahit dan manis, menerima hidup sebagai kenyataan ada pahit dan manis, kalau pahit saja itu gak baik, kalau manis saja itu juga tak baik, dan kalau salah satunya berlebihan juga tidak baik. Titik

Harusnya jangan dititik dulu, karena kisahnya masih sangat panjang, dan tak bisa hanya berhenti sampai disitu. Lagian selalu ingat juga, disitu ada air. Kenapa tak disebut juga airnya? Padahal air itu juga bagian utama dari unsur filosofi tersebut, bagaimana kalau tak ada air? Atau bagaimana kalau ada kopi dan gula, hanya ada air?

Masih ada juga di situ cangkir, masih ada juga lepek, dan mungkin masih ada meja, panci, kompor, api dan sebagainya…

Janganlah kita ini berfilosofi secara sempit, sebab hidup ini tak sesempit filosofi kopi.

Tags:

0 thoughts on “Salah Kaprah Filosofi Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published.