SHOPPING CART

close
Ayo Gabung Jadi Universalscout, Bumikan Satya Darma Pramuka Tanpa Batasan Ruang dan Waktu

Kutukan Ratu Darkness

“Ah…!” Perasaanku kacau, ditambah dengan adonan kepedihan serta bumbu kebimbangan yang merangsang petir di jiwaku semakin bergairah mencari komponen negatif untuk di sambar aliran emosi yang menciap di setiap denyut nadi dan aliran blood. “Sial! Kenapa kau kembali mengusik hidupku. Tidak bisakah kau melihat aku bahagia dalam jalan hidupku sendiri. Apa kau ingin balas dendam hah!” Semua ini membuat api dalam diriku semakin ganas, bukan leukimia atau bahkan cairan beracun yang dapat membuat kulit melepuh. Tapi tamparan emosi mulai sampai di puncak kepalanya. “Ah..!” Semakin frustasi, segala benda yang berada di dekatku dengan cepat tersambar. Relativitas Einstein tentang atom yang merujuk pada pembuatan bom untuk memusnahkan kota Hirosima dan Nagasaki. Aliran listrik ini terasa kental di badanku. Dadaku sesak, air mataku tak dapat kubendung kembali. Deraian kebencian berkolaborasi dengan guratan amarah di mata dan hati kecilku.

Menjalani hidup seorang diri, bahkan orang tuaku tidak mempedulikan hidupku sama sekali. Kekuatan air dan sihir yang menghembus di buhul-buhul menyatu dan beriringan dengan sihir tanah, api. The last Airbender! Itu bukan diriku, bahkan aku lebih buruk dari kurcaci indah itu. Segala yang kusentuh hancur! ” Tuhan, kenapa kau hadirkan aku di dunia kejam ini! Ambil nyawaku! Bahkan orang tuaku tidak mempedulikan hidupku! Ah….!” Aku semakin marah sejadi-jadinya, air mataku tidak kalah dengan suara guntur yang memecah batu-batu tebing terjal gurun Sahara. Kemana langkah ini akan menyusuri jalan-jalan terjal yang menyakitkan. Mengutuk diri sendiri dengan bentang alam dan menunggu kapal yang kukemudikan menabrak batu karang besar, tersesat terbawa pusaran lingkaran salatiga. “Noah, berhenti! Kita akan sakaratul maut jika kau mengemudikan kapal seperti orang kerasukan.” Aku tidak menghiraukannya, telingaku seolah tuli tanpa suara yang kubiarkan masuk. Jiwaku benar-benar kacau, sehingga teriakan sahabatku tidak terhiraukan oleh pendengaranku. “Noah!!” Dia semakin memekik dan membidik tepat di telingaku. “Bisakah kau diam! Kau tak tahu apapun, Kal!” Geramku, tampaknya ia tak mau kalah”Kau mau mati, hah! Aku ingin hidup!”

“Iya” jawabku ketus. “Dasar manusia listrik dari gua adudu!” Gerutunya pelan, tapi telingaku begitu tajam untuk menangkap rangsangan itu. “Apa kau bilang? Kau ingin kulempar di atas mulut paus penghuni lautan Australia!” Aku menggertak ia terbelalak ” Ayolah, aku hanya bercanda”

Empat hari mengarungi ombak ganas di lautan mengerikan, tapi tidak membuat nyaliku menciut diserang dingin. Ya, Ikal benar aku adalah manusia listrik. Entah darimana kekuatan itu datang dan bersemayam dalam badan kekarku. Ataukah dari karamel dan lelehan coklat granule yang mengalirkan listrik ke tubuhku. Tidak, bukan juga dengan partikel-partikel penyusun bom atom tapi dari Tuhan. Pertanyaan sama selalu hadir dalam benakku” Aku ini siapa? Kenapa aku terlahir berbeda, bukan seperti Aang si Avatar bukan pula spiderman si manusia laba-laba. Siapa aku? Kenapa kekuatan listrik aku kuasai. Melekat kental dengan sikap dinginku. Siapa aku? Siapa? Siapa?” Segitiga kemungkinan relaksasi dan lingkaran kehidupan darkness yang semakin membuat hidupku penuh tanda tanya.

Di dunia seluas ini, hidupku hanya ditemani oleh kekasih dan sahabatku. Curahan hati tentang kedukaan dan dilema senantiasa kucurahkan kepada kekasihku. Siapa lagi kalau bukan Bento, si kapal tuaku. Memecahkan misteri dan teka-teki pengetahuan bersama Bento dan Ikal adalah hal menyenangkan dan sejarah di hidupku.
***

Tags:

0 thoughts on “Kutukan Ratu Darkness

Leave a Reply

Your email address will not be published.