SHOPPING CART

close
Ayo Gabung Jadi Universalscout, Bumikan Satya Darma Pramuka Tanpa Batasan Ruang dan Waktu

[KISAHKU] Catatan tentang Rumitnya Pertempuranku

“Broook!!!” “Khin, woy Khin!” suara gebrokan meja terdengar dan bergetar di telingaku seiring dengan suara lantang seseorang. “Apaan sih? Biarkan aku terbuai dalam mimpi-mimpiku dengan tenang!” ucapku yang merasa terusik. Namun, suara tersebut semakin lantang, “Khin bangun, Khin! Dasar pembual mimpi tingkat dewa, bangun sekarang atau kau akan rasakan akibatnya!”. Tunggu! Suara ini… sepertinya aku kenal suara gadis ini, aku mencoba mengingat. Aku sedikit bergerak dari bangkuku dan berusaha mengangkat kelopak mataku yang seberat truk kontainer. “Haaa fan? Ngapain kau ganggu orang tidur saja, husss aku mau lanjut lagi, capek gua!” ucapku sembari menguap dan kututupi dengan tangan dan kembali mengambil posisi nyaman untuk tidur :v.

“Demi ekor anak naga dragon ball! Tidur lagi nih bocah, gua tau lu ngantuk, kemarin lu begadang kan nungguin chat seseorang kan? Ehem ehem…” ucap Fanita menggoda. “Ih apaan sih? Enggaklah, gua kan belajar…” ucapku nyengir sambil tersipu malu. “Yaelah pake ngeles segala kayak bajaj jakarta, btw tadi ente dipanggil sama Bu Jihan di UKS!” gertak Fanita sambil memalingkan wajah sebalnya. “Loh eh! What? Eh biji korma! Kenape ente nggak bilang dari tadi. Mampus dah gua…” aku terkejut dan langsung berdiri dari bangku dan meminum beberapa teguk air mineral sembari menenangkan diri. “Salah sendiri tidur kaya kebo abis macul eh macul, bajak sawah maksudnya… susah lu ya kalo dibangunin… tuh dikau ditunggu eneng Ajeng dipintu…”. Setelah beberapa detik aku mulai tenang, langsung dengan sigap kuberlari keluar kelas sambil membawa kitabku, eh maksudku buku catatan andalanku :v. “Selamat berjuang nak! Ati-ati!” ucap Fanita lantang. “Siip mak!” sahutku.

Ada yang bertanya kenapa diriku berlari? Okay gini, Bu Jihan adalah guru yang paling DISIPLIN, TERTIB, AKTIF, dan PALING SEMANGAT, wakil kepala sekolah, dan masuk jajaran 3 besar GURU KILLER disekolahku. Kebayang gak kalo gua telat kayak gini dimarahinnya kayak begimana? Sayup-sayup angin menerpa daun daun rimbun pepohonan diiringin kicau burung mungil yang menyanyi ria diatas sana, menambah semarak suasana kental pedesaan disekolah ini. Sesekali terdengar suara teriakan, obrolan, dan cekikikan gelak tawa para siswa. Aku yang sedang asyik berbincang ria dengan Ajeng sembari menyisiri keramik demi keramik untuk menuju ke UKS yang letaknya memutar dari kelasku. Saat kami melewati ruang guru, tiba-tiba “Gubraaak” aku menabrak seseorang. Ketika aku melihatnya, loh eh ini kan kak… “Maaf kak, saya nggak sengaja…” “Iya maaf juga…” lalu iya memandangku dan tersenyum. Wajahku tiba-tiba memerah seperti lipstick emak-emak, aku berlagak sok gak tau dan memalingkan wajah. Langsung kuambil kitabku, menggandeng tangan Ajeng dan pergi meninggalkannya. Sesampainya di lokasi kupamdangi tak ada seorangpun disini,

“Hey, kemana bu Jihan?” tanyaku keheranan, bukannya aku sudah telat.
“Oh mungkin lagi walking walking keliling sekolah ngadain razia dadakan, hobby kan? Hahaha..” sahut Ajeng.
“Hahaha… maybe bener juga ente…” akupun tertawa kecil.
“Eh eh… liat tuh, apaan tuh gerudukan disana?” goda Ajeng menyenggol lengan kiriku.
“Lah, itu… jangan jangan pasukan Bu jihan mau ngeroyok kita…” aku menggoda balik dengan menyenggol lengan kanannya.
“Nah, bisa jadi… kita dipanggil disini buat dikeroyok dengan kesalahan pake sepatu masuk UKS… hahaha” sahut Ajeng cekikikan.
Aku menatap kebawah, memperhatikan dengan seksama. Kugerakan maju kakiku yang tertutup rok panjangku. Dan ternyata benar! Dengan sigap kumenarik tangan Ajeng dan menyuruhnya melepas sepatu segera.
“Etdah bener, cepetan buka sepatu sebelum diliat orang!” seruku lirih, berbisik.
“Iya-iya ini juga lagi otw buka….” sahutnya.

Akhirnya tepat setelah kami meletakkan sepatu di rak Bu Jihan datang dengan gerombolan murid tadi. Aku mengenal mereka, tunggu mereka kan jajaran anak-anak berprestasi di sekolah. Wait wait wait, ada apa gerangan ini, kok perasaan gua gak enak, gumanku dalam hati. Lalu beliau menjelaskan tentang Jambore UKS, dan membagi lomba-lomba yang ada didalamnya. Akhirnya aku dan Ajeng mendapatkan tugas menjadi tim untuk lomba Cipta Baca Puisi, aku yang mengarang dengan Bu Tyas nanti tinggal Ajeng yang baca.

“Tenang Khin, disin kan ada penyair terhebat…” ucapnya penuh keyakinan.
“Penyair terhebat? Emang siapa?” tanyaku kebingungan.
“Pake nanya lagi! Ya elu lah Fransiska Khinara Abraham…” jawabnya sebal, geram.
“Oh si Khinara… ya ya ya ya… loh eh! Aku! Aku? Enggak! gua kalo puisi gak ahli, aku belom pernah pengalaman kayak beginian. Begimana ni?” aku bingung, panik.
“Gini aja kamu coba ngarang dikit-dikit tentang tema narkoba kita tadi, dan aku akan menemui Bu Tyas dulu, okay?” ujar Ajeng menenangkanku.
“Okay baiklah, I’ll try to make a poetry…” ucapku lirih, lemas lesu.

Aku membuka kitabku lembar per lembar, karena seingatku aku menulis banyak puisi di dalamnya jadi mungkin saja ada inspirasi. Saat kubuka, “Loh eh? Kok gini isinya? Ada gambar Naruto, anime kesukaanku… ada huruf Hiragana dan puisi-puisi sastra yang menabjukan… ini punya siapa sih?”. Ketika kubuka halaman terakhir, Etdah! Ini ketuker sama punya kakak itu… kok bisa sama ya? Buku berukuran sedang dengan sampul tebal dari kulit sintetis warna hitam, isinya kertas berwarna putih tulang dengan gurat garis-garis berwarna gold dan juga ada pita coklat di sampul depan bagian pojok kanan atas… jangan-jangan punyaku juga kebawa kakak itu… oh tidak!!! :v. Aku mulai berguman panjang lebar. Kebetulan kelasku jamkos dari jam ke-5 sampai pulang dan juga diruang OSIS ada kesibukan mengurusi infaq. Mungkin sebaiknya aku pergi ke ruang OSIS, itung-itung cari suasana lain… gumanku dalam hati. Aku berjalan menuju ke Ruang OSIS, tiba-tiba terdengar suara yang kukenal, “Ih… dini nyontek… huuuu”. Aku mengenal suara bocah laki-laki ini. Dia kan kak… aku berlagak seolah tak mendengar apa-apa. Aku melangkah kan kaki masuk ke ruangan,
“Assalamualaikum…” ucapku.
“Waalaikumsalam… eh Khinara, pas infaq gak keliatan kemana?” tanya Yulia, temanku yang paling anggun mempesona, lemah lembut bagai putri Solo.
“kemana aje lu? Jam terakhir gini baru nongol kepermukaan?” sahut Laiza, temanku yang paling aktif.
“Oh aku ta…”
“Dari tadi istirahat ni bocah tidur nyenyak, baru melek pas dipanggil Bu Jihan… hahaha…. dia ngantuk kemarin begadang, chattingan sama someone… ehem ehem…” jawab Fanita menggodaku.
“Etdah, dek Khinara insomnia kemarin, ehem ehem…” tiba-tiba Kak Dini menyahut.
Saat ku menoleh ternyata ada dua orang Kak Dini dan Kakak itu… ooh noooo!!! Ketika aku melihatnya ia tertawa kecil tersipu malu saat mendengar perkataan Fanita dan Kak Dini.
“Udah diem!!! Pening nih kepala? Harus bikin puisi yang bagus dan besok harus jadi, gimana kalo gak jadi? Pasti kena marah abis-abisan sama Bu Jihan…”
“Ya mending konsultasi sama kakak ituloh, kita kan angkat tangan kalo soal sastra… ya kan kak Dini? Kita keluar dulu ya bye… Lia bawa tuh uangnya itung diluar aja…” goda Fanita yang tertawa licik bersama kak Dini.
“Temanya apa dek” tanya kakak itu penuh selidik.
“Temanya Narkoba kak… kakak bisa bantuin?”
“Gedobraak…” suara bantingan pintu terdengar, tapi kami hanya menoleh dan mengacuhkan pintu kayu itu.
“Mungkin bisa… gini aja, selipin kata-kata “Dasar butiran racun pencabut nyawa!” jadi terkesan penuh emosi dalam majasnya… terus tambahin kata-kata kalo narkoba itu menghancurkan mimpi ”
“Oh iya makasih kak, biar aku catat dulu..”
“Hobi kamu nyatet ya? Sampe buku catetan ini penuh dengan hal-hal yang penting gapenting.. hahaha…”
“Eh? Oh iya… ini tadi kan bukunya ketuker kan? Ini ada tulisan “I’m Diego Fi Datgi”… ini kak aku kembaliin, maaf tadi aku liatin isinya”
Yaap! Bener sekali buat kalian yang penasaran, nama kakak itu adalah Kak Diego. Anak laki-laki kece dan hitz disekolah, dan juga punya banyak fans. Seorang penulis handal dan atlit sepakbola ataupun futsal. Karena dia penulis hebat, dia adalah siswa tersayang Bu Jihan.
“Eh iya… hehe ini dek… maaf tadi aku liatin satu satu isinya, puisi dan cerpenmu bagus-bagus…”
“Enggak kok kak? Masih Amazing punya kakak….”
“Enggak ah… biasa aja, eh dek denger tuh udah bel… ayook pulang. Nanti kalo kamu butuh sesuatu tentang puisimu kamu bisa chat kakak…”
“Iya kak makasih…”
ketikaku mengayunkan engsel pintu pintunya tak bergerak, terkunci, ini terkuci dari luar! Oh gawat… gamungkin aku disini terus sama kakak ini.
“Ahahaha.. cie berduaan cieee… ehem ehem…” aku mendengar suara kak Masdi. Beriringan dengan suara itu gerombolan kakak-kakak datang bersama Fanita dan Viana dengan tertawa licik.
“Eh woy! Tolongin brooo! Bukain jangan malah ketawa gitu donk…” ujar kak Diego lantang.
“Kak kak… tolong bukain donk! Fan, Na bukaiiin….”

Setelah cukup lama, sekitar setengah jam aku terkunci, kami berdebat dan bernegosisai dengan para orang-orang yang ada diluar. Akhirnya mereka setuju untuk membuka kunci pintu. Dan aku langsung menuju kelas untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan OSIS, yaitu bersih-bersih TPA!!! Hingga akhirnya semua kegiatan selesai, aku pulang. Petang baru saja terlewat, sang putri malam telah menempati singgasana diatas sana. Ingin kurebahkan tubuh ini, melepas penat diatas sebuah kasur besar nan empuk membelai. Namun, apa daya daku teringat akan sebukit tugas yang belum tersentuh tinta. “Ahh! Puisi ini!” aku geram, jengkel diiringi emosi. Otakku kehabisan ide, aku meloncat-loncat dan berguling-guling diatas spring bedku. Hingga tiba-tiba, “Gedebuuuk!!!” “Aduuuh! Sakiit, auuu pinggangku…. encok dah ni badan eih…” badanku terpelanting jatuh kelantai.Aku merintih kesakitan seraya memegang pinggangku. Yaa lumayan keras hingga, “Khin, Suara apa itu tadi? Kayak lemari jatuh aja?” teriak mamaku dari arah ruang tengah. “Eng.. enggak apa-apa ma. Tadi tumpukan bukuku jatuh… hehe…” jawabku mencari alasan. Aku memekik terkejut, ketika kulihat didepan mata ada sebuah flashdisk, flashdiskku yang hilang 2 minggu yang lalu! Oooh senangnyaa… aku menari-nari seperti orang india yang baru saja mendapat menantu.

Aku menyalakan laptopku dan mengecek isi flashdisk ku. Aku menyipitkan mata, ketika kulihat sebuah file cerpen ciptaan Kak Diego ada di dalam benda kecil ini. Cerpen dengan Judul “Menuju Arah Pelangi” yang menjadi booming dan trend beberapa waktu ini, karena K A T A N Y A isinya luar biasa!, sampai-sampai cerpen ini selalu dipuji-puji oleh Bu Jihan. Seketika itu aku mendapat ide cemerlang, ide yang luar biasaaaah! M E N U R U T K U :v. Akhirnya jadilah puisi berjudul “Pelangi Pudar” yang telah mengantarkan Ajeng menjadi Juara 3 dalam Jambore UKS tersebut, duuuh senangnya bakal dapat bonus nih… Aseeek!!! :p. 2 minggu telah berlalu sejak hari penat itu, aku iseng-iseng mencoba membuka kitabku. Dan aku menemukan sepucuk surat dengan amplop bewarna merah muda dengan sticker Naruto di depannya, sebenarnya gak cocok sama sekali sih :v. Dan saat kubaca, rasanya hatiku tersengat, meleleh rasanya… kata-kata puitis membuat wajahku merah merona kembali, bagaikan rambutan matang tanpa rambut. Oh Tuhan perasaan apa ini… intinya isi dari surat itu adalah pengutaraan hati seorang Diego kepadaku :3. Gilaaa!!! Amazing :V

Pagi hari telah menjelang, sepeda yang tadi kukayuh telah terparkir, dengan segera kulangkahkan kaki menuju kelas. Duh apa yang terjadi? Gak biasanya ada perasaan deg-deg an gini pas berangkat sekolah… aneh! Gumanku dalam hati. Kala bel istirahat aku menceritakan hal ini pada Fanita dan Viana yang tiba-tiba datang, ya.. merekalah “MAK COMBLANG” ku dengannya. Mereka mendukungku, aaah.. campur aduk kayak gado-gado perasaaanku ini. Kalo ditembak cowok? Aku telah mengalaminya berulang kali, tapi entah kenapa yang kali ini beda, baru pertama kali rasanya aku ingin menjawab iya :3. Bel pulang sekolah telah berbunyi kencang semua murid berhamburan keluar kelasnya. Yaaa biasa aku dan teman-teman pulang lebih akhir, ada saja hal yang dilakukan. Ketika aku keluar dari ruang OSIS tak sengaja aku berjumpa dengan kak Diego, ia menanyakan tentang suratnya yang telah ia nanti selama 2 minggu. Badanku kaku mendadak, mulut ini terasa kelu saat ku ingin bicara, hatiku berkecamuk serasa ada gempa bumi VS tsunami didalamnya. Ia hanya menatapku lekat, dengan sabar dan menutupi perasaan cemasnya menanti jawaban dari mulutku. “Emm, gimana ya… aku.. aku.. aku.. emm jawabanku….”. cukup lama aku berhenti, “Jawabanku ya!” langsung kukeluarkan kata-kata yang terlontar begitu saja tanpa kendali. Aku tersipu malu dengan wajah tomat, dan memalingkan wajah. Kulirik wajahnya berseri-seri dengan senyuman sumringah tersungging diwajahnya. “Makasih ya dek…” ucapnya halus. Baru kali ini kudengar seorang laki-laki, kakak kelas pula berkata sehalus ini, tampak penuh perasaan.
“Cieee!!! Ehem.. ehem… batuk nih. Abis keselek onta baper… ueeheem!!!” teriak Viana menggodaku.
“Eheeem! akhirnya jadian juga, Pj woi Pj!” tambah Fanita.
“Apaan sih! Enggak.. enggak.. udah udah ayook beli makanan, bukannya tadi kalian lapar ya… ayoook!!!” kutarik tangan mereka berdua dan kututup ruang OSIS dan segera meninggalkan tempat.
“Yaudah ya aku pulang, duluan ya dek… Atma! Ayo pulang….”
“Eh iya kak…” ucap kami bertiga serentak.

Hampir 1 bulan berlalu, hari-hari indah nan mengasyikan kulalui tanpa kecurigaaa sama sekali, yap tanpa K E C U R I G A A N ! hingga akhirnya semuanya muncul dengan sendirinya.
“Khin! Denger sini denger… gua dapat kabar baru dari kak Ikal ama kak Fida… kalo” belum sempat fanita melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba,
“Kalo si Laiza ternyata suka sama kak Diego dari sejak lama, dari kelas 7 semester 2!!!” sahut Viana yang tiba-tiba muncul dihadapan.
“Dan dia geram denganmu, dikarenakan kau dianggap tukang Nikung! PHO! Teman makan teman!” lanjutnya.
“HAH!!! Tap.. tapi kan aku… aku.. aku gak tau!!! Jadi bener yang dibilang Adi selama ini… dia bilang, “Khin, lu tau kenapa Laiza sekarang cuek dan selalu mengeluarkan kata-kata nikung, terutama dihadapan lu? Itu karena dia suka sama Kak Diego, dan dia menganggapmu Tukang Tikung!” tapi pas itu tiba-tiba Laiza muncul dan menampis semua perkataan Adi…” entah kenapa saatku bercerita tadi, mata ini meneteskan air mata., ya walau tak sederas AIR TERJUN SEDUDO. Fanita dan Viana panik dan segera menghiburku
Tiba-tiba…
“Eh Guys, lu tau gak OSIS ada peraturan bagi anggotanya untuk gak boleh pacaran. Bagi yang punya pacar diwajibkan putus! Dan nanti siang kita ada pertemuan sama kakak senior, dan mungkin akan membahas ini” ucap temanku Nanda anak pecinta sosmed yang kepengen banget hitzz kece gak ketulungan.
What? Hello! P U T U S? Masalah ama Laiza aja belum tahu kelanjutannya begimana? Lah sekarang ada peraturan beginian… Oh my God! What must I do? Aku hanya bisa pasrah mengikuti arus nasib yang membawaku bersamanya, yap betul sekali! Nasib ngenes B U K A N takdir. Dan benar pertemuan siang ini membahas tentang peraturan dilarang pacaran. Dan kami diberi waktu 1 minggu untuk putus sebelum dilakukan tindak lanjut dan Sumpah Demi Allah. Waktu yang diberikan tinggal 1 hari ini, tapi rasanya aku tak bisa melakukan apa-apa. Hingga,
“Dek! Aku didesak oleh senior OSIS! Dan disini ada Dini, din kamu bisa jelasin kan…” aku dan Viana hanya bisa melongo menghadapi apa yang ada di depan kami.
“Dek, aku tahu aku kakak seniormu OSIS, tapi semua ini terserah kamu. Diego sahabat baikku, aku gak bisa memaksakan ini padanya… jadi menurutmu bagaimana?” jelas kak Dini.

Aku tetap diam, mematung. Hingga cukup lama semua perdebatan terjadi, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. PUTUS!!! Pulang dari kejadian itu aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Entah apa yang kutangisi? Rasanya aku hanya bisa menangis. Tak mudah melupakan semuanya, semua kenangan masa lalu. Rasanya seperti, KESANDUNG MASA LALU. Berat rasanya mengahadapi hari esok, serasa seberat mengangkat palunya Thor, The Avengers. Bertemu Laiza, Kak Diego, dan akhirnya mengucap sumpah Demi Allah untuk tak pacaran sampai purna tugas… Aaah pening kepalaku! Hari-hari berat kulalui dengan bully-an dan olok-olok “Ciee” dan para KEPOERS yang sibuk bertanya ini itu. Aku berusaha dan mencoba untuk minta maaf pada Laiza, tapi selalu tak bisa! 4 hari berlalu, semenjak hari penyumpahan.

Ketika Fajar menyingsing, kala orang-orang masih nyenyak terlelap. Aku terusik oleh suara deru tangis sedu sedan. Aku terbangun dan segera mencari apa yang terjadi, ternyata… “Khin, Litta meninggal dunia tadi, tengah malam…” ucap mamaku lirih. Aku memekik terkejut, saudara sepupu terdekatku, teman masa kecilku sampai saat ini, harus pergi selamanya meninggalkanku karena suatu penyakit. Sedih rasanya, sakit… aku tak mau pergi sekolah hari ini. Aku ingin mengantarkan sahabat masa kecilku ke tempat peristirahatan terakhirnya :’(. Tak hentinya aku menangis. Cobaan datang bertubi-tubi, mungkin kalian menganggapnya masalah sepele, tapi ini berat dihadapi. Saat ini aku tengah ada di medan perang, aku sedang B E R T E M P U R, bertempur MELAWAN musuh kebahagiaan, yakni KESEDIHAN . Keesokan harinya, berat rasanya pergi kesekolah udah susah move on, pengen minta maaf tak selalu gak bisa, diatambah rasa kehilangan yang teramat sangat. Sore hari aku pulang, kudapati mamaku duduk tertunduk lesu memegangi sebuah kertas merah jambu, lalu menatapku tajam penuh emosi.
“Khinara! Ini apa?” ucap mamaku menahan emosi. Menunjukan surat kak Diego
“a.. anu.. bukan apa-apa kok ma…” jawabku gugup.
“Khinara gak usah bohong sama Mama. Mama tahu ini apa Khin! Khinara, kamu itu masih SMP, masih labil, kamu belum bisa berpikir dewasa… kamu masih remaja yang belum waktunya bercinta… Mama gak ngelarang kamu suka sama orang lain, tapi rasa suka itu bisa kan dipendam? Gak harus pacaran, Khin… kalau kamu pengen pacaran selesaikan dulu sekolahmu, lalu punya karier yang bagus baru kamu Mama izinkan pacaran! Mama kecewa Khin… kecewa… Mama sama Papa kan pernah bilang gak usah pacaran, kamu gak inget? Mama gak tahu harus bagaimana…”
Mama meluapkan emosi, menahan amarah dan air mata. Aku tahu Mama tak mau membuatku semakin sedih dan terpojok :”)
“Maaa… maaf maaa… Khinara khilaf ma…. Maafin Khinara maa… hiks… hiks.. hikss”
Aku tak tahu harus mengeluarkan kata apa lagi selain maaf, aku tak dapat menahan bulir-bulir air mata yang jatuh menetes dari pipiku. Aku tak hentinya minta maaf, tak segan aku bersujud di kaki mamaku seraya menangis tersedu-sedu. Lalu, Mama mengangkat kepalaku dan berkata,
“Kali ini Mama masih sabar, Mama memaafkanmu. Dan Mama juga akan jelaskan baik-baik pada Papa. Tapi ingat! Ini yang terakhir, kalau sampai kamu ulangi lagi, mama gak segan-segan pindahin kamu sekolah ke Pesantren Lirboyo, yang jauh sekalian biar kamu ngerti! Kamu mengerti? Sekarang ceritakan semua yang terjadi, cerita sama mama”

Aku hanya bisa mengangguk dan menjawab, “Iya Ma…” seraya sesenggukan menghapus air mata. Lalu kuceritakan semua yang terjadi padaku, S E M U A… yap! Termasuk tentang Laiza. Mamaku tersenyum bijak mendengar celotehan panjang x lebar x tinggi = volume, eh salah :v maksudnya celotehan Panjangku. Dan sebagai timbal baliknya Mama juga menasehatiku panjang lebar. Mendengar apa yang Mama katakan semangat dan mood sekolahku kembali. Melupakan masa lalu, minta maaf dan bersikap baik pada Laiza, dan mengikhlaskan yang sudah pergi? Siapa takut!

Hari gelap telah kulewati dengan sebuah titik terang yang akan mengantarkanku ke puncak cahaya. Minta Maaf? Haha… bukan hal yang sulit, ingin segera menyelesaikan masalah? Minta maaf lah segera. Memang minta maaf gak menyelesaikan semuanya, tapi minta maaf itu penting, untuk permulaan menyelesaikan semuanya! Gak harus malu untuk minta maaf duluan untuk menyelesikan masalah, justru itu kadang itu membuat kalian lebih terlihat dewasa. Jadi, entah dirimu salah atau gasalah minta maaflah duluan

Dan soal masa lalu? Hello! Masa lalu biarlah masa lalu jangan kau ungkit…♪♪♪☻ *Plaaaak!!!(digampar orang) *Woimalahnyanyi! *Terusinquotesnya! *Etdah!terlanjurfokus! *ts:iyadatau!refreshingbentargakboleh?jahatamatsih!

Okay gini, sesuai lirik lagu tadi masa lalu ya biarlah berlalu gausah diungkit kembali, yang akan kita hadapi itu masa depan, jadi yang harus dipikirkan itu masa depan. Jika hidup diibaratkan sebuah mobil, masa depan adalah kaca depan yang tak terbatas memandang ke depan, luas. Sedangkan masa lalu hanya sebatas kaca spion, kecil. Kita juga membutuhkan kaca spion, memandang dan melirik sebentar kebelakang untuk memastikan bisakah kita melaju ke depan. Untuk soal Move on? Hidup manusia itu M O V I N G, gak diem di suatu tempat aja kayak orang mati. Kalau kalian tetep begitu begitu aja gak mau Move, ya berarti kalian sama aja sama orang mati. Kunci Move on itu punya tekad kuat untuk berhenti mencari tahu, K E P O : Knowing Everything Particular Object.
Mantan? Hello… masih zaman mantan jadi musuh? Kayak anak kecil! Asal kalian tahu, itu adalah orang yang pernah ada dalam hatimu, perlakukan mereka selayaknya temanmu, walau tak seperti saat pacaran, tapi tetaplah jalin komunikasi, itung-itung kalian tetap menjaga tali silahturahmi. Mengikhlaskan hal yang telah pergi? Jangan melupakan kenangan… tapi dengan cara meridhoi dan tersenyum saat dia pergi, kenang moment indah bersamanya dan tahan air mata saat kau akan menangis untuknya, karena pasti dia akan bahagia disana.

For you all:
☻Semangat hidup tanpa bayangan kenangan Masa Lalu!
☻Salam maaf sebesar-besarnya ke semua orang atas kekhilafanku… terutama padamu yang jadi “LAIZA”
☻Salam bahagia bagimu yang telah pergi, semoga kau bahagia pula disana. Amien
☻Salam manis dan maaf atas kebencianmu padaku, bagi para haters. Semoga kita bisa berteman dengan baik

Cerita setengah fiksi ditambah setengah non fiksi :v

Tags:

0 thoughts on “[KISAHKU] Catatan tentang Rumitnya Pertempuranku

Leave a Reply

Your email address will not be published.