SHOPPING CART

close
Website Gudep Nganjuk 10.093 - 10.094

Kemiskinan

Kemiskinan adalah kata simpel dari kekurangan. Sebanyak apapun uang, harta maupun kekayaan yang kita punya namun bila hati kita menyebut bahwa masih belum cukup, selalu kurang maka kita auto miskin. Sebenarnya tak ada aturan baku tentang kemiskinan, sebab ini adalah masalah rasa. Jika kemudian banyak pihak menyebut bahwa kemiskinan dikaitkan dengan berapa kali orang itu makan dalam sehari, berapa uang yang dipunya, berapa banyak aset yang dimiliki, seberapa tinggi pendidikan atau apakah jenis pekerjaannya itu hanyalah metode untuk memudahkan penilaian secara fisik. Padahal kemiskinan efeknya lebih dominan berada di sisi non fisik.

Meski kita tak punya apa-apa namun hati kita bahagia dan merasa semua sudah cukup maka kondisi psikis kita jauh lebih baik dari orang yang punya semua harta tapi secara psikis ia tidak nyaman dan tenang. Bagaimana bisa orang yang punya materi melimpah tapi hidupnya tampak suram bisa disebut sebagai orang bahagia? Atau orang yang punya harta banyak tapi ketika mati tak satupun harta itu dibawa bisa disebut sebagai orang kaya. Bukankah ia mati tak bawa apa-apa, lebih parah dari si miskin?

Masalah kemiskinan dan kondisi hidup non psikis yang buruk adalah dua hal yang berbeda. Dan penanganannya pun seharusnya berbeda. Jangan berpikir sederhana bahwa jika orang miskin kita kasih beras atau bahkan mobil ia akan hidup lebih baik. Mungkin jangka pendek, sehari atau seminggu ia akan bahagia tapi selajutnya ia akan kembali ke kondisi sebelumnya.

Oleh sebab itu mengatasi kemiskinan harus dilakukan secara komprehensif dan total. Kita terlalu naif dalam memandang masalah ini. Bagaimana negeri kita bisa mengatasi kemiskinan jika pameran kekayaan yang lebih banyak dilakukan daripada gerakan sosial. Jika kita ingin mengatasi kemiskinan cobalah dimulai dari atas dulu. Hentikan pameran kekayaan di negeri ini, jadilah warga negara yang punya tenggang rasa, jangan jor-joran menumpuk materi dunia, meski itu anda sangat mampu dan semua adalah uang-uang anda sendiri.

Saat kita yang berada, memiliki rasa yang lembut pada kehidupan dan menghentikan parade kekayaan dan sebaliknya mulai menata diri bersama-sama hidup yang saling menguatkan baik secara individu, kelompok hingga ke sistem tata negara kita, niscaya negeri ini tak perlu lagi pusing dengan masalah kemiskinan secara materi maupun masalah tingginya tekanan psikis warganya karena merasa miskin.

Mengatasi kemiskinan bukan seperti mengisi air ke timba yang airnya kurang, agar menjadi penuh. Sekali lagi ini masalah rasa, ini masalah syukur, ini masalah wawasan, ini masalah legawa, keikhlasan dan semangat hidup. Pekerjaan besar kita untuk mengatasi kemiskinan dimulai dari atas bukan dari bawah. Saat yang mampu mau hidup sederhana dan berbagi apapun yang layak untuk sesama kita, maka yang kekurangan pun akan tahu diri dan menyesuaikan keadaan sehingga itu bisa memotivasi mereka untuk hidup lebih baik. Sehingga gap yang jauh saat ini antara si atas dan si bawah akan menciut serta mendekat. Jika itu terjadi maka Indonesia akan menjadi negeri yang sangat indah sekali dalam tatanan kekuatan ekonomi, kesejahteraan, kemakmuran dan terlebih mentalitas warganya untuk hidup secara baik serta benar.

Tags:

0 thoughts on “Kemiskinan

Leave a Reply

Your email address will not be published.