SHOPPING CART

close
Ayo Gabung Jadi Universalscout, Bumikan Satya Darma Pramuka Tanpa Batasan Ruang dan Waktu

Kebersamaan Ini Semoga Tak Lekang Oleh Waktu

Aku mulai melepas sepatuku di serambi mushola, rasanya hari itu terasa sangat menegangkan plus melelahkan bagiku, bagaimana tidak aku sudah bolak balik dari rumah Mas Hendrik ke studio audisi berkali – kali. Rasa gugup bercampur bingung terus menggayutiku, ya mungkin tidak aku saja yang merasakan hal tersebut, tapi juga anggota grup bandku sendiri, maupun yang lain. Ku lihat Iwan duduk di sampingku dan mulai melepas sepatunya. “Har, nanti gimana ya ?, aku nggak yakin kita bisa lolos”, “Hush, jangan bilang gitu, kita wajib berusaha dulu, jangan mikir yang nggak – nggak !”, tapi sebenarnya dalam benakku, aku juga tidak yakin kalau grup kami bisa lolos, karena banyak sekali alasan yang mendorong pemikiranku ini, seperti misalnya, umur band kami yang baru dua bulan terbentuk ditambah lagi, kurangnya personil kami.

Agak aneh memang, kami hanya terdiri dari empat orang personil, aku memegang bass, lalu Iwan rhytem merangkap melodi, lalu sang pembentuk band, Mas Putra sebagai vokalis, kemudian yang terakhir tapi yang paling tua, Mas Hendrik sebagai drumer. Sebenarnya Mas Hendrik itu memegang rhytem, tapi karena kami tidak punya seorang drumer, dan waktu audisi yang semakin dekat dan banyak anak – anak yang kami tawari untuk menjadi drummer, tidak ada yang mau, maka dari itu, terpaksa Mas Hendrik kami tempatkan di situ. Aku langsung menuju tempat wudhu dengan Iwan, lalu kami shalat zhuhur berjamaah. Setelah itu, kami beristirahat sejenak di serambi.

Ternyata sudah sejauh ini langkah kami, banyak halang rintang yang terus ada, yang mungkin tidak band kami saja yang mengalaminya, tapi yang lain mungkin lebih berat. Kami membentuk band ini, ketika ada selebaran tentang audisi band untuk mengisi acara ultah sekolah.

Aku membayangkan bisa mengikutinya, tapi hal itu kurang mungkin terjadi, sebabnya aku kurang bisa main alat musik, lagi pula banyak teman – temanku yang sudah mempunyai grup band sendiri. Maka dari itu aku tidak ambil pusing dengan hal itu, dan terus memendam keinginanku itu.

Keesokan paginya setelah selebaran audisi dibagikan, setelah sarapan aku mendapat sms dari Mas Putra, yang isinya “Ass. Her, aku pengen kita bentuk band, tolong kamu carikan diantara temen-temen kamu yang bisa main alat musik, makasih ! wass”. Spontan aku terkejut dan sekaligus merasa senang, ya Allah apakah ini amanat atau petunjuk padaku ?, aku langsung membalasnya “Ass. iya mas, tak usahakan”, aku langsung berangkat bersama Iwan sahabatku.

Sampai di kelas, aku menuju bangku pojok belakang, tempat kawan karibku iwan duduk, dia sedang termangu di situ, memang iwan sudah memiliki grup band sendiri, tapi tersiar kabar bahwa grupnya itu hanya main – main saja dan tidak untuk ke arah serius, jadi dengan peluang itulah akan ku coba untuk membuatnya bisa ke bandku. “Wan, sini !, ada hal penting yang mau ku diskusikan denganmu”, “Ada masalah apa ?”, tanyanya padaku. “Begini, kamu mau nggak, kalau kita buat grup band ?, aku kemarin di sms Mas Putra, kamu tahu to ?”, “yang vokalisnya Paradigma itu tow ?”, aku mengangguk paradigma adalah band tempat Kak Putra menjadi vokalis. Karena sekarang paradigma memiliki tiga vokalis sekaligus, entah karena alasan apa Kak Putra dikeluarkan dari paradigma, yang mungkin karena sudah terlalu banyak vokalis. “Gimana ya, aku sekarangkan masih sebagai gitaris tembel band”, “Ya, aku kan hanya mengajak, siapa tahu kamu mau ?”, “Tapi, iya dech, aku mau !”, “Ok, nanti aku bilang ke Mas Putra dulu”, sahutku.

Pulang sekolah, aku langsung bergegas ke kelas II-IPS 4 untuk menemui mas putra, sampai di sana, “Hei, bagaimana ?, udah dapat personil”, tanyanya padaku, “He’em, tapi cuma satu anak sekelasku, namanya Iwan”, “O… yang anak SKI itu ?, dia mau megang apa ?”, dia spesialis rhytem dan ST 12 banget !”, “Wah, cocok !”, “Tapi mas, sebenarnya aku ikut nggak sih, aku kan cuma bisa main bass, itu pula nggak terlalu bisa !”, “Jelas ikutlah, nggak apa – apa, memang ini kan kurang personil, OK ?”, “Lagian pula, kita kan nggak punya drummer, Mas ?”, “Tenang, biar aku yang urus itu, OK”, “Ya, dech !”. Aku pun pulang dengan perasaan yang sedikit senang sekaligus tidak yakin, apakah benar aku ikut band ?, apakah aku bisa main ?, apakah aku bisa sehebat ayahku yang personil band terkenal dulunya ?. Besoknya sepulang sekolah, kami bertiga bertemu di depan kelasku, “Hei, aku sudah mendapatkan drummer kita”, kata Kak Putra, “Siapa Mas”, “Dia kelas tiga, Mas Hendrik namanya”, aku dan Iwan saling berpandangan Mas Hendrik, yang mana orangnya ?, aku terang saja kurang mengenal kasta kelas tiga mungkin begitu pula yang dipikirkan oleh Iwan, “Yang mana orangnya, Mas ?, kok aku nggak pernah dengan nama itu”, kata Iwan, “Maka dari itu, kita sekarang ke rumahku saja, aku sudah punya daftar lagu yang cocok plus kuncinya juga !”, “Okelah !”, jawabku dan Iwan berbarengan.

Hujan deras mengiringi kami ke rumah Mas Putra, biar kehujanan seperti ini, yang penting bisa membuat grup band dan berprestasi, sesampainya disana, kami langsung naik ke lantai dua bersama Mas Putra dia lalu menyalakan komputernya, ku lihat ada satu tempat tidur dengan dua buah gitar accustic di atasnya, sambil masih mengutak – atik komputernya, Mas Putra menyuruh kami duduk, “Silahkan duduk, boleh di atas boleh di bawah”, “Iya, Mas !”, kataku sambil masih melihat ke arah luar, hujan yang turun sangat deras ditambah dengan kecemasanku, apakah kami bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Ku lihat Iwan masih sibuk dengan gitar, “Oh iya”, kata – kata Mas Putra membuat kami terkejut, dia langsung membuka pintu loteng dan mengambil beberapa sangkar burung yang di dalamnya terdapat burung pekicau, seperti derkuku, dan masih banyak lagi macamnya yang tidak ku tahu namanya.

Aku dan Iwan langsung ikut membantu, perlahan – lahan aku turunkan dan ku masukkan dalam rumah, mereka hanya diam saja, biasanya sudah berkicau ramai sekali, ya mungkin karena kedinginan, akibat hujan.

Mas Putra kembali menghadap komputernya, aku dan Iwan kembali duduk sembari mencoba gitar, “Har, aku boleh pinjam HP kamu nggak ?, buat sms ortuku”, “Ya, nih”, Iwan lalu mengetik sms untuk ortunya, dia mungkin cemas, karena bisa saja kami pulang malam akibat hujan yang masih lebat, “Makasih”, “Ok !”, “Har coba sini !”, aku pun duduk disamping Mas Putra, “Lagu – lagu ini yang akan kita pelajari !”, di monitor, ku lihat ada beberapa lagu milik band “ST 12” dan “J ROCK”, “Coba aku print ya”.

Setelah di print, aku ambil dan ku bawa ke arah Iwan, “Wan, kita coba nih”, “Mau langsung dicoba, ok !, aku yang nyanyi”, sahut Kak Putra bersemangat, “Iya – iya, sabar dulu mas”, Iwan dan aku memperhatikan lagu – lagunya ada “ST 12 – putri iklan” dan “J ROCK – i’m fallin’ in love”, “Ini lagu – lagu yang akan kita gunakan pada waktu audisi, sebisa mungkin kalian berdua menguasainya, “Aku memang tahu lagu itu, lalu apalagi masalah ?”, aku dan Iwan mulai mempelajarinya perlahan, not demi not kami lampaui, sampai akhirnya kami bisa mengiringi Mas Putra menyanyikan dua lagu itu.

Lalu dari bawah terdenganr ada suara memanggil, “Put !!!, Putra”, “Kelihatannya ibuku memanggil, sebentar ya !”, Mas Putra langsung turun dan selang beberapa menit kemudian dia kembali membawa lengser, berisi tiga cangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang masih panas, “Wah enak nih !”, “Ayo, silakan dimakan”, “Wah, ada kopi lagi”, sambil ngopi, kami membicarakan tentang lagu yang akan dimainkan, “Gak apa – apa ini mas, Cuma ada 4 personil ?”, “Alah, nggak jadi masalah !, yang penting kita bisa audisi dan bisa tampil !”, aku dan Iwan mengangguk setuju, “Kalau bisa besok kita latihan langsung di studio”, “Jangan besok, Mas !, masak hari ini pulang malem, besok malem lagi !”, “Iya dech, aku juga mau nanya ke Mas Hendrik dulu dia sempatnya kapan !”, “Ya gitu donk”, sahutku.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 6.30 sore, dan hujan pun mulai mereda, aku dan Iwan mohon pamit pulang aku mengantar Iwan mengambil sepedanya di sekolah.
Sudah beberapa hari, kami bertiga belum latihan di studio sekali pun, karena banyak sekali kegiatan yang dilakukan, misalnya Mas Hendrik dengan bimbingan belajar sepulang sekolahnya, akibat sebentar lagi UAN, lalu Mas Putra dengan OSISnya, hanya aku dan Iwan yang masih biasa – biasa saja, sambil terus latihan.

Salah satu kendala pada diriku adalah…… aku tidak memiliki gitar bass, ya meskipun dengan gitar biasa, aku bisa belajar, namun aku juga tidak memiliki gitar biasa, lalu bagaimana ??, sebenarnya ayahku memiliki dua gitar, acustri dan listrik, tapi kedua – duanya sudah rusak berat, bahkan hampir hancur dimakan rayap. Akhirnya, aku beranikan diri meminjam gitar pada kakak sepupuku.
Ternyata, aku diperbolehkan untuk pinjam, ditambah dipinjami juga buku tentang belajar gitar, wuihh !!, kakakku is best !. dan sore itu juga langsung ku pelajari semua yang menjadi tanggunganku, yakni dua buah lagu yang harus dihafalkan semua kuncinya.

Hari berganti hari, tiba saatnya pada tanggal 23 Februari 2009, hari itu sepulang sekolah, Kak Putra mengajak aku dan Iwan latihan di studio, “Tunggu, Mas Hendrik, gimana Mas ???”, “Gampang, nanti kita jemput, dia masih bimbingan !”, tiba – tiba iwan berteriak dari belakang”, “Hei !!!, bukannya kita ada bimbingan TIK hari ini ?”, “O iya, benar juga, udah gini ja, Mas !, nanti kalau Pak Ari sudah menyampaikan dua materi, aku sama Iwan tak coba buat minta izin pulang dulu, ya Mas ya ?”, “Oke dech, aku mau jemput Mas Hendrik dulu kalau gitu, ntar tak tunggu di depan pos, ok ?”, “Ya mas”, segera Putra memacu motornya, “Eh, aku shalat dulu, kamu sudah shalat ?”, “Aku sudah, tak tunggu di Lab. TIK”, sahutku. Iwan menuju mushala dan aku menuju Lab. TIK di sebelahnya.

Sampai di Lab. ternyata masih belum ada anak yang datang, dasar anak – anak, katanya mau sungguh – sungguh sekolahnya, sudah waktunya masuk, masih pada belum datang. Pak Ari langsung menyambutku, yang hanya melongok dari pintu Lab. “Eh Hardika, sini Har, silahkan masuk, mana teman – teman yang lain ?”, “Pak !!, mungkin masih sibuk sendiri – sendiri. Tadi Iwan masih shalat dulu”, “Ya, gak apa – apa !, sini mari bersih – bersih dulu !”, “Iya, Pak”, jawabku lagi. Sambil membantu Pak Ari membersihkan dan merapikan Lab. TIK aku mencoba memberanikan diri untuk meminta izin, “Pak, nanti seumpama saya minta izin boleh enggak, Pak ?, soalnya saya dan Iwan mau latihan buat audisi band untuk acara ultah sekolah !, gimana Pak ??”, “O Iya, ndak apa – apa, yang penting semua tugas TIK hari ini harus sudah selesai, baru boleh pergi”, “Siap pak, terima kasih”.

Akhirnya, bimbingan pun dimulai, Pak Ari menyampaikan materi tentang Ms. Word, setelah selesai menyampaikan materi hari ini, beliau pun memberikan beberapa tugas tentang apa yang telah disampaikan. Aku dan Iwan yang kebetulan satu kelompok, bergegas menyelesaikannya.

Tanpa aku sadari, ternyata di luar sedang hujan sangat – sangat lebat, meski begitu aku tetap meminta Iwan untuk pergi sekarang, karena waktu audisi sudah sangat dekat dan kami pun belum latihan di studio sama sekali. Karena merasa sudah minta izin Pak Ari tadi, aku langsung keluar bersama Iwan, meskipun beliau tidak ada karena masih mengantar istri beliau pulang, kami pun menuju tempat parkir belakang dan memacu motorku cepat – cepat sampai di gerbang sekolah, mereka tidak ada, lalu dimana ???, sambil menepi di pos, kucoba untuk sms Mas Putra.

Mereka sudah menunggu di seberang jalan raya, di sebelah warung bakso milik Pak Asmuri. Aku dan Iwan langsung menuju ke sana dan waktu itu pula, kami baru pertama kalinya bertemu dengan satu – satunya anggota kami dari kelas tiga, yaitu Mas Hendrik. “Hai, jadi kalian personil yang lain, aku Hendrik”, “He… he…, iya, mas !”. “Bagaimana kita berangkat sekarang ?”, “Jangan dulu mas, hujannya masih deres banget, kita tunggu sampai agak reda dulu aja ya!”. Sambil menunggu reda, kami hanya melihat ramainya lalu lintas di depan sekolah. Lalu tiba – tiba dari pertigaan samping samping sekolah, muncul Pak Arif. Lantas beliau melihat kami sambil mengangguk menyapa, dan secara reflek kami membalasnya pula. Yah. Kami memang ada rasa sedikit bersalah, tapi juga tidak, karena kami sudah meminta izin tadi.

“Ayo, kita berangkat”, ajak Mas Hendrik, “Ok, ayo !, lagi pula hujan sudah mulai tinggal rintik – rintik saja”, lantas kami bergegas untuk pergi secepatnya sebelum hujan kembali deras, pertama kami pergi ke rumah Mas Hendrik dulu mengantarkannya ganti baju, setelah selesai kami melanjutkan perjalanan lagi.

Kami terus mencari mana studio yang masih buka di saat hujan – hujan begini. Sudah beberapa studio kami datangi, tidak ada satu pun yang buka. “Hei, bagaimana kalau kita coba di Patianrowo, aku tahu tempatnya, “Ok, boleh dicoba”. Kami pun langsung memacu kembali motor – motor yang sudah hampir mogok ini.

Meskipun masih diiringi hujan, dan tubuh sudah basah kuyup, tak menghalangi kami untuk terus latihan. Agak jauh memang tempat yang akan kami tuju ini, sampai di sana, ternyata jalan yang dilewati adalah jalan setapak plus becek, tapi itu sepadan dengan jerih payahku ini, rumah penyewaannya sangat mewah dan megah sekali.

Kak Putra mencoba bertanya pada seorang wanita yang mungkin adalah pemilik studio, beliau menyuruh kami masuk ke dalam dan bertanya pada suaminya, kami masuk, dan ada seorang bapak setengah baya, beliau langsung mengajak kami ke lantai dua, ternyata di sinilah tempatnya, kami masuk ruangan dan wow… ada dua gitar dengan pedal plus kotak pengatur yang sangat banyak dan luas, bass, sound system, keyboard, dan tentunya drum, lalu microphone.
Kami langsung mengambil posisi masing – masing dan mulai memainkan lagu pilihan kami sebelumnya. Seperti kemasukkan setan atau apa, kami berjalan mengalun dengan sendirinya, apakah ini arti kekompakan.

Tak terasa, waktu bermain habis kami pun pulang, dengan Mas Hendrik dan Mas Putra duluan, aku dan Iwan di belakang, masih terheran – heran dengan yang barusan terjadi , semoga kebersamaan kami tak lekang oleh waktu, amiieen !, sekian dulu, apabila ingin lanjut, silahkan ditanyakan pada salah satu personil kami. Sekian, wassalam……

Tags:

0 thoughts on “Kebersamaan Ini Semoga Tak Lekang Oleh Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published.