SHOPPING CART

close
Website Gudep Nganjuk 10.093 - 10.094

Cerita Perjalanan Ke Pantai Banyu Anjlok Malang

Udara kota Nganjuk yang beberapa hari terasa sangat dingin tak menyurutkan nyali kami untuk melakoni perjalanan cukup jauh malam ini, yaitu menjelajah ke Pantai Banyu Anjlok di daerah Malang Selatan tepatnya daerah sekitar pantai Lenggoksono, Purwodadi, Tirtoyudo, Malang, begitulah kata Google Maps. Awal perjalanan dari Nganjuk dimulai pukul 20.35, berpakaian pramuka lengkap di cover jaket dan perlangkapan standart rider seperti helm, sepatu, sarung tangan dan masker ternyata tak cukup ampuh untuk menghangatkan badan menembus udara dingin plus angin malam itu, maka kami sepakati menggunakan kecepatan sedang saja agar konsentrasi tetap terjaga.

Di bawah langit cerah yang penuh dengan bintang gemintang, perjalanan ini terasa sangat menyenangkan. Setelah keluar dari Nganjuk, kami akan mengunjungi empat daerah tingkat II yaitu Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Sebagai tantangan pilihan kami memutuskan untuk menggunakan google map dengan mode pencarian sepeda motor, sebagai penunjuk jalan, meski kami bisa saja melewati jalan utama. kami memilih ini, sebab beberapa kali dengan mode pilihan tersebut google menyajikan peta jalan yang tak terduga, bahkan acap menyesatkan. Suatu hal yang tentu menjengkelkan bagi yang awam, tapi untuk para petualang kadang yang seru justru seperti ini, sebab kita bisa menemukan hal-hal baru, misal mengenal wilayah yang sebelumnya tak dikenal. Hanya saran kami, jangan mencoba hal tersebut bila belum siap dengan resikonya loh ya. Mending cari aman.

Memasuki kabupaten Kediri, tiba-tiba di tengah perjalanan salah satu kakak melambaikan tangan dan memberi isyarat apabila ada masalah dengan ban motornya. Kami pun menepi dan memeriksa kondisi ban motor kak Yoga, si empu kendaraan. Setelah diperiksa dengan teliti ternyata ada lubang yang cukup besar pada motor kak Yoga, besarnya kurang lebih 2 milimeter. Untung ban motor kak Yoga adalah type ban tubeles, jadi tak perlu membongkar ban luar. Kami pun cari ide darurat untuk menutup lubang tersebut dengan mencari apapun itu untuk sumbat lubang dan membeli lem G. Karena tak menemukan sumbat yang cukup solid akhirnya diputuskan menggunakan kertas mirip tisu yang kami temukan ditepi jalan, namun ternyata tak cukup kuat. Kemudian kak Yoga membeli permen karet. Dengan permen karet plus kayu kecil dan ditetesi memakai lem G, maka lubang ban tersumbat cukup sempurna. Namun kami belum yakin. Tapi tak apalah, sebagai langkah darurat sebelum menemukan tempat tambal ban tubeles. Perjalanan pun dilanjutkan sambil tengok kanan dan kiri mencari tempat tambal ban, hal yang tentu tak sederhana sebab ini sudah cukup larut malam, meski menemukan tapi rasa segan kami menyeruak kalau harus membangunkan pemiliknya. Kuasa ilahi, tak jauh dari lokasi kami tadi, ada tempat servis ban yang buka 24 jam, Alhamdulilah. Kami pun segera menepi dan menambal ban motor kak Yoga.

Di tempat servis ini ternyata kami dapat ilmu bagaimana mengatasi ban tubeles yang bocor, ingin tahu? Kata mas yang menambal ban kak Yoga, bila kita menemui keadaan ban tubeles bocor maka langkah darurat adalah sumbatlah dengan kayu yang ukuranya lebih besar dari lubang itu, ya kurang lebih selisih 1 atau 2 milimeter diamaternya. Agar bisa masuk, maka ujungnya bisa dibuat agak kecil. Ide ini persis yang tadi mau kami lakukan, sayang tak menemukan bahan yang dimaksud. Tak butuh waktu lama mas penambal pun menyelesaikan tugasnya, dengan hati lega dan senyum kembali merekah di wajah kak Yoga yang sejak tadi galau kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan seiring jam telah menunjukkan waktu masuk dini hari.

Secara teknis perjalanan selama di area kebupaten kediri cukup lancar, hal seru mulai terjadi tatkala kami masuk Kabupaten Blitar sesuai rute dari Google map. Seprti dugaan sebelumnya kami akan diberi kejutan oleh google, dan betul kami disuguhkan medan jalan yang sangat menyenangkan yaitu masuk kedalam kebun-kebun dengan kondisi jalan yang menantang. Tapi alih-alih balik, dengan penuh keriangan dan sesekali tertawa ngakak kami terus melaju mengikuti jalan sajian dari google map ditengah gelap malam berhias bintang-bintang tersebut. Setelah kurang lebih 30 menit berjuang melewati jalan amazing tersebut, akhirnya kami masuk jalan desa yang cukup enak dan seterusnya pun demikian. Ternyata, google map sekarang lebih bagus dibandingkan sebelumnya hahaha..

Kami sempat istirahat sebentar diperjalanan, tepatnya sekitar bendungan Ir.Sutami, Karangkates, sambil menikmati lalu lintas malam hari jalanan ini. Banyak truk-truk besar yang melintas dengan suara ngos-ngosan. Kasihan juga sih sama truknya, tapi mau gimana lagi, mau kami dorong juga gak bakalan kuat. 😀

Sekitar jam setengah tiga dini hari kami cus menuju ke Dampit, Malang. Perjalanan sangat lancar, masih ditemani dengan bintang gemintang dan rembulan akhir bulan yang semakin membuat alam terlihat terang meski malam hari. Dan seperti biasa, udara dingin khas Malang langsung menyambut kami yang sejak tadi memang sudah kedinginan. Bahkan tangan Kak Robin terlihat pucat gara-gara tadi ngeyel tak mau pakai sarung tangan.

Tepat waktu subuh tiba kami sampai di masjid desa Kepatihan, dan menunaikan ibadah sholat berjamaah bersama penduduk setempat. Habis sholat, kami sempat berbincang-bincang sebentar dengan beberapa jamaah. Mereka nampak kaget ketika mendengar bahwa kami dari Nganjuk, maklum jarak Nganjuk kesini lumayan jauh untuk bersepeda motor. Selepas itu kami segera melanjutkan perjalanan menuju pantai Banyu Anjlok dan Pantai Lenggoksono.

Jalanan menuju lokasi sangat indah. Namun demikian harus hati-hati sebab jalan yang dibangun berada di atas pundak gunung, dimana kanan kiri kulihat bukan banyak pohon cemara, tapi jurang-jurang yang menganga. Eits, tapi bukan berarti gak ada pohonnya. Disini penghijauan sangat terjaga, terbukti hampir tak ada bidang tanah yang gundul. Pohon-pohon yang tumbuh pun sangat heterogen. Ini menandakan alam masih terjaga dengan baik. Dari sisi jalan ke Lenggoksono ini, di arah timur kita bisa melihat Gunung Semeru berdiri dengan gagah, dengan sesekali mengepulkan asap putih. Di sebelah selatan kita bisa melihat laut selatan yang luas sepert tiada tepi. Di sebelah barat ada pegunungan selatan yang menjadi benteng tanah jawa membentang hijau. Suasana pagi yang sangat menyenangkan sekali, ditambah matahari yang menyeruak dilembar biru sang langit. Cuma saran kami, jika kakak-kakak ingin menikmati keindahan alam seperti ini, jangan sambil mengemudi ya. Lebih baik berhenti dulu. Hal ini dikarenakan ya itu tadi, jarak antara tepi jalan dan jurang sangatlah tipis. Bagaimanapun keselamatan tetap utama.

Jam 6 pagi, kami sampai di pintu masuk pantai Lenggoksono. Kebetulan ada penjual sayuran lagi ngetem disitu, kami sempatkan untuk beli jajan sebagai sarapan sebelum lanjut ke pantai Lenggoksono sekaligus eksplorasi wilayah. Dari Eksplorasi yang kami lakukan tempat ini memiliki lokasi wisata yang cukup bagus sebenarnya, mulai dari pantai Lenggoksono, pantai Bolu-Bolu, Pantai Banyu Anjlok, Goa Sarang Dompet dan beberapa lokasi yang kami sendiri belum tahu namanya. Namun sayang banyak sekali sampah kami jumpai, kemudian tanda-tanda lokasi atau fasilitas umum yang tidak terawat dan dibiarkan begitu saja terus juga kepedulian masyarakat setempat akan potensi pariwisata di daerahnya yang masih harus ditingkatkan. Kami yakin bila beberapa hal dasar ini dibenahi dengan serius maka kawasan pantai Lenggoksono dan sekitarnya akan menjadi destinasi wisata unggulan diwiyah Malang, bukan semata karena keelokan lokasinya, tapi juga karena ‘kemasan’ yang cantik akan potensi luar biasa tersebut. Selain itu, mohon untuk kakak-kakak semua yang kesana atau kemanapun berwisata, atau juga bapak ibu adik di sekitar lokasi jangan buang sampah sembarangan ya. Bagaimanapun indahnya lokasi wisata, bagi kami bila disitu ditemukan satu saja sampah yang tak seharusnya berada maka sudah mengesankan hal yang tak baik. Kenapa? Sebab satu sampah yang ada akan menggoda orang lain melakukan hal sama, maka bisa dipastikan berikutnya akan segera kotorlah tempat tersebut. Jadi jangan pernah kita memberi ruang atas keberadaan sampah yang dibuang bukan pada tempatnya.

Tentang harga tiket masuk, Pada saat tim kami menyebar berbagi tugas eksplorasi, salah satu kakak yang berada di pantai Lenggoksono dan mendapat tugas sebagai centre point kegiatan ini di datangi oleh oknum yang mengaku petugas tiket dan parkir, meminta uang tiket masuk sebesar Rp. 15.000 dan Parkir Motor Rp. 5000. Saat menerima laporan kakak ini melalui radio komunikasi, kami sempat merasa kaget sebab menurut informasi sebelumnya di salah satu website tiket cuma Rp. 5000 dan parkir Rp. 5000. Ternyata faktanya beda 🙂 … tapi tenang kami gak protes kok, mungkin harga tiket sudah berubah ya, jadi ya kami bayar lunas. Oh ya tadi belum disampaikan ya bila waktu kami masuk ke lokasi, loket tiket masih tutup dan keadaan juga sepi dan kami memang sengaja menjadikan pantai lenggoksono sebagai titik komando.

Lalu bagaimana dengan track lokasi? Pada umumnya lokasi di area pantai ini bisa dijangkau dengan mudah baik menggunakan sepeda motor atau jelajah kaki. Kalau dengan mobil sementara mungkin masih mentok di Pantai Lenggoksono ya. Tapi wajib diperhatikan bagi para rider, jika menembus jalanan di pantai sekitar Lenggoksono waspadalah sebab medan cukup berbahaya apalagi bagi mereka yang masih pemula dengan medan-medan setapak di lereng gunung. Bila tak yakin, kami sarankan minta diantar saja oleh bapak-bapak rider lokal, biayanya terjangkau kok. Selain itu bila mau bisa menyewa perahu untuk ke pantai sekitar Lenggoksono. Namun pada saat kesana kami tak memilih opsi ini.

Kurang lebih 3 sampai 4 Jam kami melakukan eksplorasi dan merasa takjub dengan eloknya pemandangan alam plus sekaligus sedih atas kepedulian pengunjung lokasi wisata ini, kami pun balik ke Nganjuk. Perjalanan pulang tak secepat berangkat tadi, sebab kakak-kakak merasa kantuk mulai menggoda. Maka agar tetap aman, beberapa kali kami musthi mengalah untuk menyegarkan diri. Disebuah mushola yang kami singgahi untuk sholat di perjalanan pulang, kami didatangi oleh seorang ibu yang sudah sepuh, kami awalnya berpikir ibu ini adalah pengemis yang mau meminta-minta, tapi ternyata tidak, beliau menawarkan makanan ringan berupa mie goreng. Tanpa pikir panjang kami langsung membeli beberapa dagangan ibu tersebut meski kami juga baru saja makan mie, yaitu mie dan bakso. Kenapa kami begitu, bukan apa-apa sih. Kami merasa bangga dengan ibu tersebut sebab ia tak mau minta-minta tapi memilih berdagang untuk mencari nafkah. Meski dalam hati juga haru, sebab seusia beliau yang seharusnya istirahat saja dirumah, masih disibukkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah kami beli dagangan beliau, wajah ibu tadi berbinar senang.. dan kami pun tersenyum.

Bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang rombongan telah mencapai base camp kembali, lebih awal dari rencana semula yang diperkirakan sampai selepas Isya. Setelah briefing sebentar, kakak-kakak dari Asanti dan Uniscout pun berpisah kembali ke rumah masing-masing. Demikian catatan perjalanan Asanti kali ini, tunggu di event selanjutnya ya

Tags:

0 thoughts on “Cerita Perjalanan Ke Pantai Banyu Anjlok Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tulisan Terbaru